Begitu banyak suplemen kesehatan yang beredar di kalangan masyarakat. Banyak yang berupa makanan atau minuman, konsumen bebas memilih sesuka hati. Fungsional atau tidak, terkadang konsumen bingung memilihnya.Semua produsen menawarkan yang terbaik, dengan promo yang gencar baik lewat media massa maupun cetak. Luar biasa membigungkan untuk orang awam. Hal ini didukung dengan kondisi zaman sekarang yang menuntut kehidupan instan. Sehingga kesehatan pun dijadikan bahan instan pula.Layakkah?Tergantung dari persepsi konsumen. Semua bisa memilih ,bebas, tapi harus dipikirkan masak-masak,karena berhubungan dengan kesehatan. Kesehatan tidak hanya dirasakan saat ini tapi untuk selama-lamanya. Jagalah kesehatan anda sebelum anda merasakan sakit.....
Mangga, sebagai salah satu buah musiman di Indonesia, akan selalu muncul setahun sekali, di Bulan yang berakhiran ber, tepatnya mulai bulan oktober sampai dengan desember atau dengan kata lain bulan-bulan di saat musim penghujan. Hal ini bisa dijadikan sebagai rezeki tambahan untuk segelintiran orang alias penjual buah musiman. Buah yang membludak didukung dengan permintaan yang tinggi pula, maka tak heran stand-stand dadakan penjual musiman ini bisa anda lihat di sekeliling anda, tidak hanya di pasar baik tradisional maupun modern, tempat lazimnya buah dijual, tapi disekitar perumahan anda pun, bisa dilihat betapa banyaknya penjual mangga musiman. Seperti pagi ini, penulis melihat transaksi antara kedua orang yaitu penjual dan pembeli. Si pembeli datang setelah melintas jalan perumahan : "Bang,mangga apa ini?" kata penjual :"harum manis bu, manis dech?". Jawab si pembeli : "Dua kilo, sembilan ribu ya?". Kata si penjual : "Ga bisa bu, sudah harga pas!sekilonya yang ini lima ribu, kalau dua kilo ya sepuluh ribu?".Sejenak si pembeli berpikir sambil melihat-lihat mangga harum manis itu yang sangat menggiurkan, besar, dan kuning, manis pasti rasanya. Dan tak lama si pembeli berkata :"ya udah bang, dua kilo ya!". Proses pertimbangan pun terjadi serta diikuti dengan transaksi. Sebenarnya mangga harum manis tadi terdiri dari beberapa harga ada yang Rp 4.000,-/kg dan ada yang Rp 5.000,-/kg. Perbedaan ini terlihat dari ukuran mangga tersebut. Harga yang paling tinggi ditunjukkan dengan bentuk mangga yang lebih besar dan kuning. Permintaan mangga yang tinggi di saat musimnya, tidak selalu membuat produsen menuruti harga pasar(harga yang diinginkan konsumen), tetapi produsen buah musiman ini bisa membidik buah mangga dari segmentasi geografis(yaitu wilayah/daerah saat musim penghujan) dan segmentasi psikografis(yaitu keinginan banyak orang untuk mengkonsumsi mangga musiman, yang jarang ditemui).
Pulsa elektrik sekarang sudah ada dimana-mana. Mungkin sistem yang mudah dan cara yang familiar untuk orang-orang awam sekalipun mereka bukan pelaku bisnis yang handal. Banyak orang terpikat dengan promo yang dibuat oleh pelaku bisnis pulsa elektrik, dengan kata-kata yang bisa anda lihat di banner-banner sepanjang jalan, mal ataupun perumahan dekat tempat anda tinggal yaitu : Hanya dengan modal Rp.100.000,- sudah bisa mnejadi penjual pulsa.Trik yang jitu untuk menarik seorang berbisnis pulsa. Alhasil anda bisa lihat bagaimana banyaknya orang yang berjualan pulsa disekeliling anda, baik di perkantoran, sekolah maupun lingkup-lingkup sosial lainnya. Lalu motivasi apa yang membuat seseorang ingin berbisnis pulsa?Secara teori abraham maslow, mengenai hirarki kebutuhan, terdapat lima tingkatan kebutuhan manusia yaitu : fisiologis, rasa aman, sosial, harga diri, dan aktualisasi diri.Motivasi konsumen dari bisnis ini yaitu harga diri dan aktualisasi diri. Harga diri bisa dilihat bahwa seseorang itu ingin diakui orang lain, jikalau mereka punya penghasilan tambahan diluar penghasilan pokoknya.Sedangkan untuk aktualisasi diri, seseorang ingin mewujudkan dirinya kalau ia bisa mempunyai pola pikir untuk menghasilkan penghasilan tambahan.kedua motivasi psikogenis ini yang membuat orang ingin berbisnis pulsa elektrik
"Megulas Faktor Kepribadian dalam menonton sebuah film"
Bulan November tahun 2009, muncul sebuah Film fenomenal yang berinisial angka, yang menunjukkan tahun dimana akan terjadinya kiamat, "2012" itulah judul filmnya. Mungkin anda semua akan terpancing adrenalinnya untuk mengetahui seperti apakah kiamat itu jika terjadi? Sedikit ulasannya, menceritakan runtuhnya bangunan-bangunan mewah di belahan dunia manapun, seperti patung liberty, patung singa, dan gedung-gedung pencakar langit, itu sedikit cuplikan yang bisa dilhat di televisi, didengar di radio, dan bahkan anda bisa memutar sekuel videonya di situs bioskop ternama. Mungkin karena promo yang dahsyat dan judul film produksi luar negeri ini cukup fenomenal, membuat banyak orang khususnya kaum muda ingin menontonnya. Sama seperti yang dilakukan saya dengan teman-teman kelas di kampus. Delapan orang kami sepakat untuk menonton film ini di area sekitar kampus kami di Depok, sebut saja XX nama bioskopnya. Kami datang ke XX itu sekitar pukul 12.00 siang, tapi kami mendapatkan tiket XX untuk pukul 18.00 sore. Bayangkan betapa antusiasnya orang-orang yang mengantri untuk sebuah tiket film? Tidak hanya satu baris, tapi beberapa baris untuk film tersebut? Lalu faktor apa yang membuat itu semua terjadi? faktor kepribadian yang dipengaruhi oleh lingkungan, ynag lebih menonjol dalam kasus ini. Bayangkan begitu cepatnya seseorang terpengaruh untuk menonton film ini, hanya dengan mendengar dari orang sekitarnya kalau film ini mempunyai efek yang bagus dan terlebih ceritannya seru. Selain faktor lingkungan, ternyata masih ada satu faktor kepribadian lainnya, yaitu genetika. Genetika adalah kepribadian seseorang yang terbentuk dari awal ia hidup di dunia. Yang pastinya orang-orang yang bergenetika curiousity "keingintahuan yang besar", pasti ingin menonton film ini.
Pasar segar adalah pasar yang saat ini sedang dalam proses pembengunan, terletak di daerah Depok II , tepatnya di Jln.Tole Iskandar, atau yang familiar untuk orang depok disebut “seberang Jln.Siliwangi”. “Pasar Segar, Pertama Di Kota Depok”, merupakan salah satu kalimat dalam banner yang terpampang di sekitar kota depok, dan anda bisa lihat banner tersebut di Jln.Margonda dan sekitarmya. Developer atau tim pemasar ini sangat jeli melihat segmentasi pasar yang potensial di kota depok.
Dari segi segmentasi geografis : Lokasi yang strategis, kepadatan penduduk kota depok merupakan dua alasan yang kuat untuk developer membuat pasar segar. Lokasi yang strategis bisa terlihat dari dua arah akses jalan yang melintas di daerah pasar segar tersebut. Dengan kata lain, angkutan umum yang bisa lalu lalang, selain menjadi daya tarik juga menjadi nilai plus yang bisa dilihat dari segi konsumen. Dan untuk kepadatan penduduk, tidak perlu diragukan, depok merupakan kota kecil yang padat penduduk, ini bisa dibuktikan oleh saya sendiri, dulu saat saya pindah tahun 2000 ke depok, hanya ada sekitar 3 pusat perbelanjaan di sekitar jalan margonda. Sekarang tahun 2009, lebih dari lima pusat perbelanjaan yang ada di sentral kota depok, di jalan margonda raya. Ini juga yang menjadi nilai plus yang bisa dilihat developer. Selain dari itu, dari segi psikologis yaitu motivasi dan persepsi. Dua hal ini juga menjadi nilai plus yang harus dilihat jeli oleh developer. Motivasi developer(produsen) yang ingin membuat pasar yang tidak biasa dengan pasar traditional pada umumnya, yaitu pasar yang tidak becek dan bau atau dengan kata lain pasar tersebut berstandar pusat perbelanjaan seperti di mall-mall. Persepsi konsumen yang menganggap berbelanja di pasar traditional merupakan hal yang tidak nyaman, maka pasar segar bisa menjawab persepsi konsumen tersebut.
Segmentasi pasar lainnya yaitu , dari segi psikografis, yaitu gaya hidup. Gaya hidup modern orang depok, ini bisa dilihat dari banyaknya perumahan elite baik yang berbentuk cluster maupun tidak. Faktanya yaitu satu rumah elite saja bisa mengeluarkan konsumsi berapa rupiah per harinya. Konsumsi berlebihan sudah menjadi ciri khas untuk orang-orang kalangan elite. Ini juga yang memicu developer untuk membuat fasilitas modern, seperti pasar segar tersebut untuk memenuhi kebutuhan konsumen di kota depok yang sangat padat.
Selain segmentasi-segementasi pasar yang sudah disebut di atas, banyak fakta-fakta lain yang bisa jadi acuan. Banyaknya penjual makanan mulai dari warung sederhana yang berjejer di jalan, kafe-kafe yang ada di sekitar perumahan elite, sampai ke restauran-restauran baik yang ada di pusat perbelanjaan ataupun yang ada di hotel-hotel kota depok, bisa jadi kunci perkembangan kota depok yang lgi-lagi bisa jadi lirikan developer untuk membuat fasilitas modern.
Desiran angin di siang hari itu, membuat bilahan bambu kering yang belum dianyam, ikut terumbai-umbai. Seakan menunggu giliran, untuk dianyam oleh sang penjual. Tumpukan bambu kering menjadi saksinya. Tidak hanya satu, bahkan beberapa penjual pun melakukan hal yang sama di sudut-sudut Jalan Pasar Agung, Depok II Timur. Sesekali sambil menganyam ketupat seorang pedangang, Warto, 50, meladeni tawar-menawar yang dilontarkan oleh beberapa pembeli yang melintas saat itu. Ada yang sepakat mengenai harga sehingga pembeli pun langsung tersenyum kecil menandakan kepuasaanharga yang ditawar. Bukan saja satu ikatan, bahkan beberapa ikatan sanggup dibawa oleh Ibu Sukinah, 35, disaat terik matahari tidak bisa ditolerir. Semangatmenyambut hari nan fitri memacunya melakukan hal itu. Langsung kuhampiri dia dari kejauhan, kutanyakan harga satu bungkus ketupat itu. Rp 300,-/ bgks jawabnya. Waw, harga yang fantastis untuk sebuah sarung ketupat. Padahaldua bulan lalu saat ibuku menyuruh membeli sarung ketupat untuk acara makan-makan keluarga, hanya Rp 150,-/bgks. Sesudah itu dia langsung pergi meninggalkanku dengan membawa 3 ikatan sarung ketupat. Satu ikat terdiri dari 30 bungkus. Jadi, Rp 27.000,- yang dia keluarkan hanya untuk sarung ketupat saja.
Selain itu, di sudut lain ada pula pembeli, yang pindah dari satu pedagang ke pedagang ketupat yang lain. Harga yang tidak sesuai pasti jawabannya. Benar saja hal ini dilakukan Ibu Defi, 38, tetanggaku yang kebetulan bertemu di pasar siang itu. Dengan ramah, dia tetap meladeniku berbincang-bincang sambil memilah-milih bungkus ketupat yang bagus dan murah. Akhirnya pilihan dia tertuju pada seorang bapak paruh baya yang berjualan di ujung jalan pasar itu. Dari posisi ia berjualan saja, sudah terlihat tidak strategis, selain di ujung jalan yang jarang dilalui pembeli, tempat ia berjualan pun tidak dilindungi oleh pohon yang rindang. Maklum saja, para pedangang berebutan tempat jualan, karena penjual bungkus ketupat di pinggir jalan itu, hanya penjual musiman yang tidak terkena sewa kios. Kembali ke lapak ujung itu, terlihat jikaikatan bungkus ketupat Pak Cahyono, 40, lebih banyak dibanding dengan pedangang lainnya. Melihat tidak terlalu banyak pembeli yang menawar, Ibu Defi mengarahkan langkahnya. Akhirnya disepakati harga per bungkus Rp 250,-/bgks. Lima ikatan dibeli oleh Ibu Defi. Satu ikatan sebanyak 40 bungkus ketupat, dan selembar uang Rp 50.000,-an dia keluarkan. Senyuman pun tersungging di wajahnya, tanda rasa kepuasaan karena mendapat bungkus ketupat yang lebih murah. Mungkin karena lokasi yang terpojok dan sepi pembeli,membuat Pak Cahyono menurunkan harga ketupatnya. Terlepas dari itu, semakin sore semakin banyak pengunjung yang ingin membeli bungkus ketupat, karena hari itu adalah H-2 sebelum lebaran tiba.Dan hitungan waktu pun, ketupat-ketupat di pasar itu laku terjual. Tak peduli mahal atau tidaknya, tapi semua pengunjung pasti pulang dengan menenteng bungkus ketupat. Namanya juga hari raya, pasti semua orang ingin memenuhi kebutuhannya yang hanya dirasakan setahun sekali.